Menjaga Lisan


LITERASI: PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

MENJAGA LISAN

Gambar : Mendidik perlu kesabaran

           Sebagai manusia biasa, pasti kita tak luput dari emosi dan rasa marah. Bisa saja kita terbawa pada situasi itu, kemarahan dibalas dengan kemarahan, kata kata kasar dibalas dengan kata kata yang lebih kasar,  teriakan dibalas teriakan, umpatan dibalas dengan umpatan dan lain sebagainya. Apalagi jika situasi itu terpicu bukan dari kesalahan kita, artinya kita merasa pada posisi yang benar. Nah... pertanyaannya apakah yang kita dapat ? Kepuasan.....kemenangan.... kebanggaan.... senyuman...  atau perasaan suka yang lainnya? ...Jawabannya ada pada diri anda.
          Aku tidak setuju dengan sikap itu, dan aku yakin teman teman sependapat denganku. Marilah, kita belajar dari sebuah cerita bijak. “Alkisah seorang guru bersama muridnya sedang asyik berdiskuasi bertukar pikiran tentang keilmuan. Tiba tiba seseorang datang dengan kemarahan  meluap luap.  Serentetan kata kata keras, kasar, makian dan hujatan terlontar dari mulut tamu tak diundang tersebut, tanpa mampu sang guru melakukan pembelaan. Namun nampaknya memang inilah sikap yang diambil oleh sang guru. Dia hanya diam dan mendengarkan , sesekali memandang tamunya, sesekali tertunduk , tanpa melakukan tindakan membalas. Melihat tidak ada balasan dari sang guru, nada suara  sang tamu mulai menurun.  Beberapa saat berlalu, sang tamu merasa cukup puas melampiaskan kemarahannya dan mungkin saja lelah sehingga dia berhenti berbicara. Sang guru hanya memandang dan berucap satu dua patah kata sebagai jawaban kepada tamunya. Tak lama kemudian sang tamu pergi meninggalkanya. Sepulang tamunya, dengan rasa penasaran muridnya bertanya, “ Wahai guru kenapa anda hanya diam meski dimaki maki dengan kata kata kotor oleh orang tadi”? Dengan tersenyum sang guru menjawab, “ Anakku jika engkau diberikan sampah oleh seseorang, apakah engkau akan menerimanya”? “Ya jelas tidak guruku”. “Kalau engkau tidak menerimanya, maka itu akan menjadi milik siapa?“” Jelas yang punya gurú”. “Nah itulah pelajaran kita hari ini, kata kata kotor, sumpah serapah, umpatan itu adalah ibarat sampah, jadi kita tak perlu menerima sampah dan biarkan kembali kepada yang punya”. “Maka terimalah kebaikan karena itu akan bermanfaat namun tolaklah keburukan karena itu hanya akan mandatangkan kerugian, biarkanlah keburukan itu kembali kepada yang memberi”. Begitulah pelajaran yang aku dapat dari dialog anatra  guru-murid tersebut.
      Nah teman teman, belajar dari kisah ini menumbuhkan semangat bagiku untuk senantiasa belajar sabar dan menjaga lesan. Ungkapan  “mulutmu adalah harimaumu” rasanya bisa diartikan lebih dengan kalimat ini, “lidah bisa menjadi belati yang  mengiris hati tetapi bisa mejadi embun pagi yang selalu menyejukkan hati dan memberikan motivasi. Maka sebuah perenungan bagi diri kita untuk senantiasa menjaga lesan. Belajar untuk memahami bahwa apapun yang kita ucapkan akan berdampak pada orang lain, apakah dia akan sedih, sakit hati, putus asa, takut, kecewa ataukah justru akan gembira, suka cita, bahagia, bersemangat, dan ceria.
      Kita pasti sangat menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang keberadaannya ada bersama orang lain. Dalam hidup bersama tersebut, kekuatan yang menyatukan manusia dan yang memungkinkan manusia membangun kehidupan bersama adalah cinta. Relasi antar manusia tidak akan berarti jika tidak didasarkan pada cinta. Cinta membuat aku dan engkau menjadi kita. Maka dasar cinta adalah menghormati eksistensi dan hidup bersama. Namun kehadiran benci tidak dapat dinafikan juga. Dua hal ini selalu beriringan. Ketika seseorang tengah jatuh cinta, maka benci harus diwaspadai. Ketika seseorang tengah benci pada seseorang, cinta akan datang dan menghapus perasaan benci yang timbul. Demikianlah dua hal ini selalu menghiasi hati seseorang dengan kadarnya sendiri. Cinta yang merupakan fitrah pada setiap manusia, tidak bisa timbul dengan sendirinya. Ia laksana ikan yang perlu umpan untuk memancingnya. Ketika cinta tumbuh bersemi pada diri manusia, bisa dipastikan ia tengah mengalami hal-hal yang baik dan indah. Namun perasaan benci akan menimbulkan keburukan, kebencian, amarah, nafsu, tangisan, kejengkelan dan seterusnya.
           Yang terpenting buat kita adalah terus belajar menumbuhkan cinta , memberi umpan, menggerakkanya, memupuknya dan mengembangkannya, serta meminimalisir tumbuhnya kebencian. Saat cinta berbicara, maka lesan kita akan selalu berucap kata kata kebaikan nan indah dan sejuk di rasa, yang akan berdampak pada tumbuhnya sikap optimisme, berani melakukan kebenaran, percaya diri, saling mencintai, saling menghormati, bersemangat dan seterusnya. Lesan yang kita ucapkan harus dapat mendorong seseorang melakukan kebaikan kebaikan selanjutnya .
Marilah kita mengambil contoh dari apa ada di sekitar kita. Contohnya di sebuah institusi sekolah (kebetulan penulis seorang guru), jika kata kata dari Kepala Sekolah mampu memberikan energi positif kepada gurunya, maka guru akan  memiliki semangat, motivasi dan tanggung jawab untuk mendidik secara profesional melahirkan siswa yang cerdas dan berkarakter baik, guru juga mampu menebarkan kebaikan bagi keluarganya dan masyarakat di sekiliingnya. Imbasnya, sang murid berkat hasil pendidikan gurunya akan menghaslkan kebaikan bagi dirinya, mampu membanggakan orang tuanya dan menjadi tauladan yang baik bagi masyarakat.  Nah inilah yang namanya kebaikan jariah (jaringan kebaikan) yang pahalanya terus mengalir dan mengalir. Ke manakah mengalirnya... ? Tentunya kepada diri kita sendiri. Pada akhirnya, inilah hakekat kehidupan, yaitu saat kita mampu menebarkan kebaikan kepada orang orang di sekitar kita melalui ucapan dan tindakan serta  sejauh mana kita mampu memberikan rmanfaat bagi banyak orang. 
Tidak ada gading yang tak tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Marilah kita senantiasa belajar untuk meningkatkan kualitas diri menjadi manusia yang lebih sempurna. Menumbuhkan cinta dan menekan benci. Cinta akan menjaga lesan kita untuk selalu berkata yang baik dan membangun semangat.

Komentar

  1. Benar sekali. Mulutmu harimaumu. Setiap kata-kata yang selalu keluar dari mulut kita sangat berpengaruh dengan lingkungan sekitar kita. Apabila kita mengeluarkan kata-kata yang positif dan membangun semangat seseorang, hal itu juga akan mempengaruhi lawan bicara kita. Apabila lawan bicara kita juga melakukan hal positif karena sebelumnya mendengarkan nasehat yang baik dari mulut kita, maka tentu saja pahala selalu mengalir dalam diri kita. Semoga kita selalu dikelilingi dengan orang-orang yang baik. Aamiin ❤️

    BalasHapus

Posting Komentar